Rabu, 24 Juni 2015

Abu Hurairah, Sahabat Nabi dengan Ingatan yang Luar Biasa



ABU Hurairah, adalah salah satu sahabat Nabi yang masuk Islam sesudah masa hijrah. Kecintaannya pada kebenaran telah membawanya kepada Islam setelah perang khaibar, pada tahun 7 Hijriyah sehingga menuntunya untuk bersahadat dihadapan Nabi Muhammad SAW.
Abu Hurairah berjumpa dengan Rasulullah hanya dalam kurun waktu yang cukup singkat. Selama empat tahun. Namun empat tahun ini tidak disia-siakannya. Ia pergunakan waktu tersebut untuk menjadi pelayan Rasulullah SAW dan dengan setia mengikuti kemana saja Rasulullah pergi.
Abu Hurairah tak pernah absen dari majlis yang Rasulullah laksanakan. Abu Hurairah tidak hanya belajar langsung dari sumbernya, namun juga merekam kata demi kata yang terucap dari mulut Nabi SAW. Ia juga menyimpan setiap momen persoalan yang Rasulullah selesaikan. Dimana nantinya akan berguna jika terjadi permasalahan yang sama.
Sebenarnya ada satu keistimewaan yang dimiliki oleh Abu Hurairah tetapi tidak dimiliki oleh sahabat yang lain. Abu Hurairah terkenal dengan ingatannya yang kuat. Abu Hurairah bisa mengingat dengan mudah, termasuk semua perkataan dengan detil betapapun panjangnya. Dan ingatan itu bisa ia pertahankan hingga akhir hayatnya. Subhanallah sungguh karunia yang patut disyukuri oleh siapapun yang memperolehnya.
Abu Hurairah sadar bahwa ia amat tertinggal oleh sahabat lain yang sudah masuk Islam lebih dulu. Padahal ia begitu mencinai kebenaran, begitu mencinti Nabi SAW dan begitu mencintai dakwah. Ia ingin memberi andil dalam perjuangan Islam sesuai dengan apa yang ia mampu. Namun, kesempatan berjihad di jalan Allah tidak selalu tersedia, lagipula semua sahabatpun mampu melakukannya. Berinfak dijalan Allah pun tidak selalu bisa ia lakukan karena ia hanya seorang yang miskin yang tidak memiliki kebun, ternak maupun perniagaan.
Maka ia memutuskan untuk menjadi jalan dakwah dengan menjadi penyambung dakwah Nabi. Ia akan menyampaikan segala sesuatu yang didengar, dilihat dan dipahaminya dari segala sisi kehidupan Rasulullah SAW.
“Aku bukan lelaki yang kaya yang memiliki banyak kebun, pertanian dan peternakan sebagaimana kebanyakan lelaki dari kaum Anshor,” kata Abu Hurairah pada suatu ketika. “Dan aku bukanlah seorang lelaki kaya yang memiliki banyak bisnis perniagaan seperti yang dimiliki oleh kebanyakan kaum Muhajirin,” lanjutnya.
“Maka aku memiliki waktu yang lebih banyak dari mereka untuk bisa menghadiri majlis-majlis Nabi, selalu ada di dekat Nabi, di saat mereka sedang absent atau sedang dalam kesibukan. Dan aku bisa mengingat dengan sangat baik apa-apa yang Rasul tunjukan, katakan dan jelaskan,” jawab Abu Hurairah ketika ada orang yang mempertanyakan bagaimana bisa ia memiliki perbendaharaan hadits yang begitu banyak, hingga melebihi apa yang dimiliki oleh mereka yang masuk Islam lebih dulu.
Pada suatu ketika, bertahun-tahun setelah Rasul wafat dan kekhalifahan telah diganti oleh beberapa sahabat Nabi, Marwan bin Hakam yang hidup pada masa kekhalifahan Bani Umayyah bermaksud menguji ingatan Abu Hurairah. Ia diminta untuk menyebutkan beberapa Hadits yang diketahuinya, dan tanpa sepengetahuan Abu Hurairah seseorang pencatat menuliskan apa yang ia ucapkan.
Setelah setahun berlalu, Marwan kembali memanggil Abu Hurairah dan memintanya untuk menyampaikan sejumlah hadits yang sama seperti tahun lalu. Ternyata, Abu Hurairah menyebutkan hasitshadits itu dalam susunan kata yang sama persis dengan yang ia sampaikan setahun lalu. Maka Marwan pun semakin yakin bahwa Abu Hurairah memiliki ingatan yang sangat kuat.
Abu Hurairah tidak hanya dikaruniai ingatan yang kuat, tetapi Allah juga memberinya umur yang panjang, yaitu kurang lebih 78 tahun. Dia hidup hampir 50 tahun selepas wafatnya Nabi dan melewati berbagai macam masa pemerintahan Islam. Tetapi satu yang tak pernah berubah. Ia terus memberikan andil bagi umat Islam yaitu dengan menyampaikan hadits-hadits Rasulullah SAW. Semoga Allah meridhainya. [Sumber ref.:Ummi Z.]

Selasa, 16 Juni 2015

Syekh Nawawi

Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam Nawawi (676 Hijriah atau l277 Masehi). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji.

Nama kiai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan.

Di setiap majlis ta’lim, karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu, mulai dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir.

Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstream keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).

Sayid ’Ulamail Hijaz adalah gelar yang disandangnya. Sayid adalah penghulu, sedangkan Hijaz wilayah Saudi sekarang, yang di dalamnya termasuk Mekkah dan Madinah.
Dialah Syekh Muhammad Nawawi, yang lebih dikenal orang Mekkah sebagai Nawawi al-Bantani, atau Nawawi al-Jawi.

"Al-Bantani menunjukkan bahwa ia berasal dari Banten, sedangkan sebutan Al-Jawi mengindikasikan musalnya yang Jawah, sebutan untuk para pendatang Nusantara karena nama Indonesia kala itu belum dikenal. Kalangan pesantren sekarang menyebut ulama yang juga digelari asy-Syaikh al-Fakih itu sebagai Nawawi Banten," kata Ismetullah Al Abbas, pewaris Kesultanan Banten, ketika ditemui di rumahnya di kompleks Masjid Banten, Banten, beberapa waktu lalu.

Menurut sejarah, Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad bin Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani.

Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 Masehi atau 1230 Hijriah. Pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriah atau 1897 Masehi. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun.

Memiliki karomah kakinya bersinar saat gelap

Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di Desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jumat terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.

Ismet mengungkapkan, Syekh Nawawi memiliki karomah. Di antara karomah beliau adalah, saat menulis syarah kitab Bidayatul Hidayah (karya Imam Ghozali), lampu minyak beliau padam, padahal saat itu sedang dalam perjalanan dengan unta. Tapi di jalan pun ia tetap menulis.

Beliau berdoa, bila kitab ini dianggap penting dan bermanfaat buat kaum muslim, ia mohon kepada Allah SWT memberikan sinar agar bisa melanjutkan menulis.

"Tiba-tiba jempol kaki beliau mengeluarkan api, bersinar terang, dan beliau meneruskan menulis syarah itu hingga selesai dan bekas api di jempol tadi membekas, hingga saat Pemerintah Hijaz memanggil beliau untuk dijadikan tentara (karena badan beliau tegap), ternyata beliau ditolak, karena adanya bekas api di jempol tadi," ujarnya.


Bertahun-tahun dikubur jasad utuh

Karomah yang lain, tampak saat beberapa tahun setelah beliau wafat, makamnya akan dibongkar oleh pemerintah untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahatnya akan ditumpuki jenazah lain (sebagaimana lazim di Ma’la).

Saat itulah para petugas mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dikubur.

"Bila pergi ke Mekkah, Insya Allah kita akan bisa menemukan makam beliau di Pemakaman Umum Ma’la. Banyak juga kaum muslimin yang mengunjungi rumah bekas peninggalan beliau di Tanara, Serang, Banten. Letaknya di belakang masjid Nawawi di Tanara," ujar Ismet.

Kyai Hashim Ashari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya.

Konon, di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali Kyai Hashim Ashari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.